Header image  
SOLUSI KELUARGA TERCINTA  
line decor
  HOME  ::  
line decor
   
 
Kumpulan Artikel-Artikel

Obat baru anti penyakit kanker Sorafenib yang
dikembangkan dengan merk “Nexavar”

Dalam sidang tahunan lembaga tumor AS yang diselenggarakan di Chicago, ilmuwan mempublikasikan sebuah riset yang menggembirakan dunia medis (4/6). Suatu obat anti penyakit kanker Sorafenib yang sudah digunakan pada kanker ginjal, dapat memperpanjang hidup penderita penyakit kanker hati. Meski belum bisa dipastikan dapat mengobati penyakit kanker hati, namun setelah penelitian selama puluhan tahun tanpa hasil atas penyakit kanker hati, ini boleh dikata sudah merupakan terobosan besar.
Sorafenib untuk kanker ginjal.
Setiap tahunnya di seluruh dunia lebih dari 500.000 orang didiagnosa mengidap penyakit kanker hati. Karena reaksi penyakit kanker hati terhadap terapi konvensional tidak bagus, sehingga selama ini merupakan penyakit yang terus memusingkan dunia medis.
Sejak maret 2005 lalu, peneliti mengumpulkan 602 penderita stadium akhir penyakit kanker hati dari sejumlah besar negara. Mencoba obat anti kanker Sorafenib merk “Nexavar”, yang dikembangkan pabrik farmasi asal Jerman dan perusahaan Onyx California. Penderita dibagi dua kelompok, satu kelompok mengonsumsi 2 tablet Sorafenib setiap hari, sedang kelompok lainnya mengonsumsi placebo. Dalam penyakit tersebut, di mana penderita yang mengonsumsi Sorafenib, rata-rata masa hidupnya adalah 7sampai 10 bulan, sedang kelompok yang mengonsumsi placebo, rata-rata masa hidupnya adalah 7 sampai 9 bulan. Masa hidup dengan mengonsumsi Sorafenib tumbuh 44% dibanding mereka yang tidak mengonsumsinya.
Sorafenib dapat melenyapkan sel ganas, memutuskan darah yang memberi zat makanan pada tumor. Konon katanya terhadap tumor dalam hati dan yang telah menyebar ke dalam tubuh bagian lainnya juga dapat berperan efektif. Mereka yang mengonsumsi Sorafenib, tumor tidak menyusut atau hilang.
Terobosan terbesar
Profesor dari lembaga ilmu kedokteran, New York yang memimpin penelitian ini yakni dokter Leo Wayter mengatakan, “Perbedaan rasio hidup ini, dimasa lalu, belum pernah terjadi pada penderita kanker hati. Adalah terobosan penting dalam pengobatan penyakit ini. Meski waktu 3 bulan itu bukan waktu yang lama, namun bagi penderita kanker hati, ini benar-benar prestasi yang sangat mengesankan, dan ini merupakan terapi kesistemastisan kanker hati jenis pertama”.
Karena efek dari obat Sorafenib begitu mengesankan, sehingga penelitiannya berakhir lebih awal dari jadwal sebelumnya pada Februari lalu, dan penderita yang semula mengonsumsi placebo, kini sudah beralih mengonsumsi Sorafenib.
Seorang pengacara yang berusia 73 tahun dari California, Frank Mordon adalah contoh kasus yang berhasil melawan kanker dengan mengonsumsi Sorafenib. Agustus tahun lalu, setelah ia didiagnosa mengidap kanker hati yang tidak dapat dieksisi melalui operasi. Bahkan dokter telah berkata padanya “sebaiknya mempersiapkan urusan terakhir”. Namun kemudian dokter memberi pilihan mengonsumsi Sorafenib padanya, dan Frank Mordon segera menerima saran sang dokter. 9 bulan setelah mengonsumsi obat ini, tidak ada tanda-tanda tumornya menyebar, juga tidak menunjukkan adanya efek samping.
Frank Mordon berencana membuat testamen (surat wasiat) atau mengatur upacara pemakaman. ketika masanya telah tiba malah masih bisa berkumpul dengan ke -8 anak dan 18 cucunya. Bahkan ia berencana mengadakan perjalanan katedral ke Uruguay bersama istrinya.
Sumber: Reader’sDigest Indonesia

 

Makna Sebuah "Kata atau Kalimat" Bagi Anak

Kata dan kalimat yang kita ucapkan dalam sebuah perbincangan dengan si kecil bisa berpotensi menganggu perkembangan anak. Masa sih?

Berikut ini adalah beberapa kata dan kalimat yang biasa atau umum diucapkan para orang tua, yang ternyata bisa diartikan berbeda atau bahkan lain oleh si anak. Dan selanjutnya ada kata dan kalimat yang harus diucapkan sebagai alternative yang bisa dipahami anak.

1 Orang tua: ” Kamulah yang terbaik”
Diartikan anak : ” Pokoknya tugasmu membuat orang tua senang”
Sebaiknya katakan: ” Kamu harus bangga dengan usaha keras kamu”

Menurut penelitian Carol Dweck, PhD, psikolog sosial dari Columbia University yang mengajar di Stanford University, anak yang di puji ’berusaha keras’ bernilai ujian lebih baik daripada yang dipuji ’pandai’. Pujian terhadap kemampuan akan menimbulkan anggapan bahwa sukses datang karena mereka memiliki hal tersebut, dan itu mengurangi faktor usaha, sehingga anak takut menghadapi tantangan. Mereka bisa memilih berhenti saat mereka sedang diatas.

2. Orang tua: ”Kita tidak bisa membeli itu.”
Diartikan anak: ” Segalanya harus menggunakan uang.”
Sebaiknya katakan: ”Di toko ini memang banyak mainan bagus. Di rumah kita masih ada banyak mainan lain. Jadi hari ini kita tidak membeli mainan, ya”

Jika anda sering mengatakan bahwa kondisi keuangan yang tidak mencukupi mengakibatkan dia tidak mampu memiliki mainan, maka dia akan merasa uang adalah sumber dari segala kesenangan dalam kehidupan. ” Jika berhadapan dengan anak lebih besar, diskusikan cara tepat untuk mendapatkan barang itu. Misalnya, sebagai hadiah kelulusan,” kata Marcy Axness, Ph.D spesialis pengembangan anak.

3. Orang tua : ”Ngga usah dipikirkan, lupakan saja”
Diartikan anak: ” Kamu lucu banget deh, mirip ondel-ondel.”
Sebaiknya katakan: ” Ayah paham kamu sedang kesal dan marah. Mau cerita ke ayah, kan?

Ketika anak kesal, ”orang tua memberi rasa nyaman lebih besar kepada anak saat men dengarkan. Kenali mood-nya agar dia selalu mau bercerita,” kata Dr. Mel Levine, profesor paediatrik di Universitas of North Carolina, Chapel Hill.

4. Orang tua: ” Jangan bicara pada orang asing.”
Diartikan anak:” Semua orang yang kamu tidak kenal akan berbuat jahat kepadamu.”
Sebaiknya katakan: “ Jangan bicara dengan orang yang membuat kamu merasa tidak nyaman. Ini caranya ...”

Anak jaman sekarang bertemu orang asing dimana saja dan kadang harus berbicara dengannya. Faktanya banyak kasus kejahatan terhadap anak justru orang yang mereka kenal.

5. Orang tua: ” Pinjamkan mainan ke Adek.”
Diartikan Anak: ” berikan mainan ke Adek!”
Sebaiknya katakan : ” Adek mau main dengan mobil kamu sebentar. Nanti dia kembalikan. Itu masih mobil kamu kok.”

Menurut David Elkind, PhD, profesor di Tufts University dan penulis The Hurried Child, sampai usia delapan, anak belum menangkap konsep berbagi. Jadi sebelum mencapai usia itu, Anda dapat mulai mendidik agar dia mengurang sikap mementingkan diri sendiri. Misalnya, dengan mencantumkan lebel nama pada mainan sebelum anda mengambilnya.

6. Orang tua: “ Husss ... jangan bicara begitu.”
Diartikan Anak: ” Ayah nggak mau dengar lagi kami bicara begitu.”
Sebaiknya katakan: ” Ayah senang kamu mau bicara. Tapi ada satu permintaan Ayah yang tidak boleh kamu lupakan. Kata-kata kamu tadi terlalu kasar, jangan gunakan kata-kata itu lagi, ya”

Berhati-hatilah saat anak mengeluarkan kata-kata kasar ketika dia berbicara dengan anda. ” Orang tua seharusnya merasa beruntung jika anaknya mengajak bicara,” kata Vicky Panaccione, Ph. D, pendiri Better Parenting Institute di Melbourne, Florida. Namun jika orang tua terlalu fokus kepada kata-kata saja – Lalu Marah – anak akan diam, dan dialog akan terhenti. Dengarkan, lalu bicarakan keberatan anda tentang kata-kata itu diakhir dialog.
Sumber: Word to inspire oleh Cynthia Dermody, Reader’sDigest Asia

 

Gadis Yatim Piatu yang Diadopsi Saudagar

Pada 30 tahun silam, seorang istri saudagar di Washington, AS, di mana pada suatu malam, tanpa sengaja kehilangan tas tangannya di sebuah rumah sakit. Saudagar itu begitu cemas, dan berusaha mencarinya sepanjang malam itu. Sebab di dalam tas tangan itu bukan saja berisi 100.000 dollar AS, tapi juga berisi sebuah informasi pasar yang sangat rahasia.

Ketika pedagang tersebut tiba di rumah sakit, ia melihat seorang gadis lemah dan kurus yang dingin gemetaran berjongkok bersandaran tembok di koridor rumah sakit yang sunyi, dan yang dipeluknya dengan erat dalam dekapannya itu adalah tas tangan istrinya yang hilang.

Gadis yang bernama Seada ini, datang ke rumah sakit itu menemani ibunya yang sedang dirawat. Kehidupan anak dan ibu yang saling bergantung hidup ini sangat miskin, barang-barang yang berharga telah habis terjual, dan uang yang terkumpul juga hanya cukup untuk membayar biaya semalam rumah sakit. Jika tidak ada uang maka besok akan diusir dari rumah sakit. Malam itu, Seada yang tak berdaya berjalan mondar-mandir di koridor rumah sakit, dengan polos ia memohon berkah dan perlindungan Tuhan, bisa bertemu dengan seorang yang baik hati menolong ibunya. Tiba-tiba, sebuah tas kulit seorang wanita yang baru turun dari loteng terjatuh di atas lantai ketika melewati koridor itu, mungkin karena tergesa-gesa, sehingga ia tidak menyadari sedikitpun kalau tas kulitnya terjatuh. Ketika itu di koridor hanya ada Seada seorang. Ia mengambil tas kulit itu, lalu bergegas mengejar wanita itu, tapi wanita itu sudah naik ke sebuah mobil dan pergi dengan angkuh.

Seada kembali ke kamar ibunya dirawat, dan ketika dia membuka tas kulit itu, ibu dan anak itu terkejut melihat segepok uang di dalamnya. Dan seketika itu, mereka pun sadar, bahwa dengan uang sebanyak itu bisa digunakan untuk mengobati penyakit ibunya. Namun ibunya menyuruh Seada mengembalikan tas kulit itu ke koridor, menunggu orang yang kehilangan tas kulit itu kembali mengambilnya. Yang harus dilakukan dalam sepanjang hidup manusia adalah membantu orang lain, membantu orang lain yang lagi kesulitan, yang tidak layak dilakukan adalah serakah dengan harta yang tidak halal, mengabaikan kebenaran begitu melihat uang orang lain.

Tas dikembalikan ke pemiliknya. Kemudian pedagang itu berusaha sekuat tenaga untuk menolong ibu Seada, namun ibunya tetap menghembuskan nafas terakhir meninggalkan gadis yang sebatang kara itu. Kedua ibu dan anak itu bukan saja telah membantu mengembalikan kerugian 100.000 dolar AS itu kepada sang pedagang, yang lebih penting adalah informasi market yang didapatkan kembali dari kehilangan itu, membuat usaha pedagang itu maju, dan tidak lama kemudian menjadi hartawan besar.

Seada yang diadopsi sang pedagang, d imana setelah menyelesaikan kuliahnya kemudian membantu sang hartawan mengelola perdagangannya. Meski sang hartawan selama itu tidak mengangkatnya memangku jabatan apapun yang sesungguhnya. Namun selama dalam tempaan yang panjang, kecerdasan dan pengalaman sang hartawan memberi pengaruh halus dan tak terasa mempengaruhinya, sehingga membuatnya menjadi seorang pebisnis yang matang. Ketika memasuki usia senja, banyak sekali visi sang hartawan mesti meminta pendapat Seada.

Ketika sang hartawan dalam masa kritis, ia meninggalkan sebuah surat wasiat yang mengejutkan: “Sebelum saya kenal dengan Seada dan ibunya saya sudah sangat kaya. Namun, ketika saya berdiri di hadapan anak dan ibu yang dirundungi kemiskinan dan penyakit tapi tidak berniat memiliki uang saya yang hilang itu, saya melihat merekalah yang paling kaya, sebab mereka mentati norma kehidupan yang mulia, dan justru inilah yang tidak ada pada diriku sebagai pedagang. Uang yang saya dapatkan adalah dari hasil tipu menipu, adalah mereka yang membuat saya menyadari bahwa modal terbesar dalam perjalanan hidup manusia adalah kepribadian. Saya mengadopsi Seada bukan karena balas budi, juga bukan simpati, melainkan mengundang teladan seseorang sebagai manusia. Dengan adanya dia di sisiku, dalam perdagangan, akan selau kuukir dalam hati,mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak. Ini adalah sebab hakiki makmurnya usaha saya di kemudian hari, hingga saya menjadi hartawan yang kaya raya. Setelah saya meninggal, harta kekayaan semuanya saya wariskan kepada Seada. Ini bukan menghadiahkan, melainkan agar supaya usaha saya bisa lebih cemerlang. Saya yakin, putera saya yang cerdas dapat memahami curahan perhatian ayahnya”.

Ketika putera sang hartawan yang berada di luar negeri kembali, ia membaca dengan seksama isi surat wasiat ayahnya, kemudian tanpa ragu sedikitpun membubuhkan tanda tangan di atas surat warisan tersebut: “Saya setuju Seada meneruskan semua harta kekayaan ayah. Saya hanya berharap Seada bisa menjadi istri saya.”

Setelah melihat tanda tangan putera sang hartawan, Seada sedikit agak ragu, lalu mengambil pena dan membubuhkan tanda tangannya: “Saya terima semua harta kekayaan yang ditinggalkannya termasuk puteranya.” (Sumber : Minghui-net)

 

Tabib Terbaik Ada dalam Diri Kita

Dokter Albert Schweitzer, seorang dokter misionaris di pedalaman Afrika dan seorang pemenang hadiah nobel pernah menyatakan bahwa: ”The real doctor is the doctor within.” Yang ia maksudkan adalah bahwa sesungguhnya diri kita sendirilah yang dapat menyembuhkan berbagai penyakit yang kita derita.

Sering kita tidak menyadari bahwa ketika kita mengalami sakit yang parah, satu-satunya yang dapat menyembuhkan diri kita adalah diri kita sendiri. Para dokter dan pengobatan yang kita terima sesungguhnya hanyalah stimulan bagi proses kesembuhan kita. Tubuh kita sendirilah -- melalui mekanisme imunitas tubuh, sel-sel darah putih dan organ-organ tubuh lainnya -- yang bekerja mengatasi dan menyembuhkan penyakit kita. Nah siapakah yang mengendalikan kerja sel-sel dan organ internal kita? Meskipun setiap individu sel dalam tubuh kita pada prinsipnya memiliki proses berpikir, tetapi keseluruhan harmoni atau keselarasan kerja setiap sel dikendalikan oleh pikiran bawah sadar kita. Apa artinya ini? Kalau kita bisa mengendalikan pikiran bawah sadar kita, berarti kita dapat sepenuhnya mengendalikan kerja setiap individu sel dalam tubuh kita untuk membangun tubuh yang sehat dan terbebas dari berbagai penyakit.

Tubuh Memiliki Mekanisme Penyembuhan Sendiri

Your body is a miraculous self healing mechanism built to look after anything that happens to it. Dalam bukunya Mind Power, John Kehoe menjelaskan bahwa tubuh kita sesungguhnya memiliki mekanisme untuk memperbaiki atau menyembuhkan dirinya jika ada sesuatu yang terjadi padanya. Pada saat tubuh kita terluka misalnya, sel-sel darah putih segera bergerak menuju bagian yang terluka untuk memerangi infeksi sedangkan sel-sel darah lainnya segera membekukan darah kita dan menutup luka tersebut. Semua sepertinya terjadi otomatis; kita tidak perlu melakukan apa-apa. Tubuh kita sepenuhnya siap dan mengetahui bagaimana memperbaiki dirinya.

Ketika kita makan, tubuh kita segera mencerna makanan tersebut dan mengambil sari-sari makanan untuk diubah menjadi energi yang diperlukan bagi seluruh bagian tubuh kita. Selanjutnya cairan getah bening mengangkut buangan dan sel-sel mati untuk diproses keluar dari tubuh kita. Semuanya terjadi otomatis, kita tidak perlu memikirkannya maupun mengendalikannya. Demikian pula kalau tangan kita patah. Apakah dokter yang menyembuhkannya. Bukan. Dokter hanya memperbaiki letak dan posisi tulang kita serta memasang ”gips” agar tulang kita tidak bergerak. Namun proses penyembuhan selanjutnya dilakukan oleh tubuh kita sendiri.

Jadi ketika kita atau anggota keluarga kita mengalami sakit yang cukup parah, kita harus meyakini bahwa tubuh kita sendirilah sebenarnya yang dapat menyembuhkan penyakit yang kita derita Kesehatan kita adalah tanggung jawab kita. Kita harus mengambil peranan yang aktif dalam kesehatan dan kesembuhan kita. Karena seperti dikatakan oleh Dr. Albert Schweitzer -- seorang dokter berkebangsaan Jerman, pemenang hadiah Nobel yang mengabdikan dirinya di Afrika – bahwa dokter sejati adalah dokter yang ada di dalam diri kita.

Penulis buku, Piece of Mind, Sandy MacGregor mulai mengenal dan kemudian mengembangkan manfaat kekuatan pikiran bawah sadar sesudah mengalami peristiwa kesembuhan anaknya dari sakit asma yang cukup parah melalui teknik relaksasi yang diajarkan oleh dokter yang merawatnya. Dokter itu tidak hanya mengajarkan untuk mengontrol rasa sakitnya, tetapi juga mengajarkan cara menyembuhkan dirinya sendiri.

Kisah Kesembuhan oleh Diri Sendiri

Berikut adalah kisah menarik yang mungkin dapat memberi kita inspirasi tentang betapa dahsyatnya kekuatan pikiran kita untuk menyembuhkan penyakit yang amat berat. Pengalaman ini diceritakan oleh Martin Brofman setelah memperoleh bimbingan tentang teknik pendayagunaan pikiran dari John Kehoe.

Ketika dia berusia tiga puluh empat tahun, dia divonis oleh dokter mengidap tumor otak yang sangat berbahaya dan telah memasuki stadium akhir. Dia diberitahu bahwa hidupnya tinggal 2 bulan sampai satu tahun lagi. Namun dia tidak menyerah dan bertekad untuk menyembuhkan dirinya sendiri.

Dia mulai melakukan meditasi dua kali sehari selama lima belas menit. Pada layar imajiner dalam pikirannya, dia memvisualisasikan tumor yang ada dalam otaknya. Setiap kali dia melakukannya, dia menggambarkan bahwa tumornya semakin hari semakin mengecil. Dia dapat membayangkan sel-sel kanker dihancurkan oleh sistem imunitas alami dalam tubuhnya. Dan dia dapat merasakan bahwa setiap dia pergi ke kamar kecil, sel-sel kanker yang mati tersebut dibuang dari tubuhnya. Demikian pula setiap dia merasakan sakit yang luar biasa, dia tidak berpikir bahwa sel-sel kankernya sedang bertumbuh dan menyerang untuk membawanya ke kematian, namun justru dia berpikir bahwa rasa sakit itu karena sel-sel kanker itu mengkerut dan semakin kecil dan semakin kecil.

Selain itu dalam keadaan meditasi dia selalu melakukan afirmasi, ”Every day in every way, I am getting better and better.” Dia senantiasa berpikir positif dan optimis. Setiap dia makan, dia selalu meyakinkan dirinya bahwa makanan yang dia makan memberinya energi dan membuat dia semakin sehat dan semakin sehat. Dan rasa cinta dari keluarga dan teman-temannya dia rasakan sebagai kekuatan untuk membantu proses penyembuhannya.

Dua bulan setelah dia memprogram ulang pikiran bawah sadarnya, dia memeriksakan dirinya ke dokter. Sang dokter sungguh terkejut ketika mengetahui bahwa tidak ada sisa tumor sama sekali dalam tubuhnya.

Prinsip-Prinsip Penyembuhan Diri

Setiap kita sesungguhnya dapat dan memiliki kekuatan untuk menyembuhkan diri kita sendiri manakala kita menderita sakit yang cukup parah. Tubuh kita diciptakan lengkap dengan sistem dan mekanisme penyembuhan yang secara otomatis mengatasi setiap gangguan yang terjadi dalam tubuh kita. Namun seringkali justru pikiran kita sendiri yang memperparah kondisi penyakit kita. Berikut adalah sejumlah prinsip yang perlu kita perhatikan dalam rangka memelihara kesehatan dan untuk menyembuhkan diri sendiri.

1. Apa yang kita yakini itu yang terjadi
Dalam sebuah penelitian tentang efek plasebo terbukti bahwa apa yang kita yakini sangat mempengaruhi apa yang terjadi pada kita. Dalam penelitian itu sejumlah pasien diberi tiga perlakuan obat pengurang rasa sakit yang berbeda: obat ringan, placebo (bukan obat sesungguhnya), dan morfin dosis tinggi.

Pasien yang diberi placebo namun diberitahu bahwa itu morfin, ternyata merasa bahwa rasa sakitnya hilang. Sedangkan pasien yang diberi morfin namun diberitahu bahwa dia diberi obat ringan, lebih dari separuh masih merasakan sakit. Apa pun yang diyakini oleh para pasien justru lebih penting dari pada apa yang sesungguhnya terjadi.

2. Sikap kita menentukan kesehatan kita
Ketika pertama kali kita tahu bahwa kita mengidap penyakit, biasanya respon awal adalah panik. Pikiran kita kemudian menjadi lumpuh oleh ketakutan. Semakin parah penyakit kita, semakin takut kita jadinya. Menurut Wallace Ellerbroek -- seorang ahli bedah yang akhirnya menjadi psikiater – kita sering memandang penyakit sebagai makhluk asing yang memasuki tubuh kita, bukannya sebuah proses. Jika kita memandang penyakit sebagai suatu proses untuk menuju keseimbangan baru, maka kita dapat membantu proses penyembuhan itu sendiri. Kekuatiran dan harapan negatif kitalah yang menyebabkan penyakit itu. Dengan kata lain, orang-orang yang takut kena penyakit lebih berpeluang untuk terkena penyakit sebab tubuhnya terkena dampak dari ketakutannya sendiri.

3. Obat terbaik adalah tertawa
Kita tahu bahwa orang yang tertekan, selalu sedih dan berpikiran negatif lebih sering terkena penyakit daripada orang yang selalu riang dan gembira. Penelitian menunjukkan bahwa kondisi mental yang penuh tekanan seperti: rasa bersalah, kegelisahan, kekuatiran, marah, dan ketakutan dapat menghalangi berfungsinya sistem kekebalan tubuh. Dalam penelitian medis baru-baru ini terbukti bahwa jika kita tertawa, tubuh kita mengeluarkan dua jenis hormon dari otak yang amat penting yaitu enkephalins dan endorphins yang dapat mengurangi rasa sakit, ketegangan dan depresi.

4. Berpikir sehat setiap hari
Setiap hari usahakan untuk meluangkan waktu beberapa menit mengisi pikiran kita dengan pemikiran tentang kesehatan dan kekuatan. Kirimkan pesan positif ke aliran darah, jaringan dan sel-sel tubuh kita. Bayangkanlah energi yang mengalir ke dalam tubuh kita. Rasakan bahwa tubuh kita adalah sebuah mesin yang dapat memperbaiki diri sendiri. Latihan ini merupakan penguat dan penyegar tubuh kita.

5. Lakukan afirmasi setiap hari
Setiap saat selalu katakan ”Every day in every way I am getting better and better.” Setiap hari saya semakin sehat dan semakin baik. Ingatkan diri kita bahwa tubuh kita dapat sembuh secara alami dan dapat memperbaiki diri sendiri. Afirmasikan senantiasa bahwa ”My body is a healing mechanism.”

6. Meditasi dan visualisasi
Salah satu cara mengatasi rasa sakit adalah dengan menggunakan warna. Rasa sakit adalah pertanda bahwa ada sesuatu yang tidak beres atau tidak seimbang dalam tubuh kita. Jika kita terserang rasa sakit, anggaplah bahwa rasa sakit itu seperti warna merah. Pertama-tama, tingkatkanlah rasa sakit itu di pikiran kita dan bayangkan warnanya semakin merah terbakar. Bila kita dapat meningkatkan rasa sakit berarti kita juga dapat menurunkan intensitasnya. Kemudian bayangkanlah warna merah itu menghilang dan gantikanlah dengan warna favorit anda, misalnya biru, kuning atau hijau. Lihatlah dalam layar mental kita bahwa warna merah menghilang dan berubah menjadi warna baru yang menggantikan.

Setiap orang memiliki cara-cara sendiri untuk melakukan visualisasi dalam mengatasi penyakitnya. Yang pasti kita harus yakin dan disiplin secara rutin melakukan teknik visualisasi sampai penyakit itu hilang dari tubuh kita.
(Sumber: Buku Mind Power by John Kehoe)

 

Belajar untuk Mendengar Suara

Suatu ketika seorang Raja mengirim putra mahkotanya berguru kepada seorang bijak. Sang Raja ingin, anaknya dapat belajar seni bagaimana menjadi pemimpin sejati. Orangtua bijak itupun setuju. Ia lalu membawa sang putra mahkota ke tengah hutan, untuk belajar tentang kepemimpinan. Jadilah mereka layaknya guru dan murid.

Sang guru lalu meminta putra mahkota itu untuk tinggal di hutan, bertapa sendirian, selama 1 tahun penuh. Berlalulah masa itu. Saat kembali, ditanyalah putra mahkota untuk bercerita tentang semua yang didengarnya. Anak itu menjawab, "Aku mendengar pipit bernyanyi, daun-daun bergemerisik, dan rumput yang menari bergoyang."

Rupanya, masa bertapa belum selesai. Sang Guru meminta putra mahkota untuk kembali ke hutan dan berlatih mendengar lebih teliti. Anak itu pun bingung, tapi ia tetap menuju ke tengah hutan dan mulai mendengar lebih teliti.

Pertama kali, ia tak mendengar sesuatu yang baru. Dan waktupun berjalan begitu lambat. Pelan dan terus perlahan, sang putra mahkota belajar menyimak dengan lebih dalam.

Pada suatu pagi, anak itu mulai mendengar suara-suara sayup yang membawa nuansa baru baginya. Merasa senang, ia pun kembali kepada gurunya dan berkata, "Guru, saat kumulai mendengarkan alam, aku mendengar "suara yang tak terdengar". Suara-suara kuncup bunga yang mengembang, suara-suara senyum rumput yang menyambut embun pagi, dan alam yang membangunkan musim semi. Begitu indah, dan senandungnya membuatku terlena. "

Sang Guru tersenyum, lalu berkata, "Nak, engkau telah mampu mendengar 'suara yang tak terdengar'. Engkau telah layak menjadi seorang Raja menggantikan ayahmu. Hanya orang-orang yang mampu mendengar suara-suara hati rakyatlah yang layak menjadi pemimpin. Merekalah yang mampu merasai perasaan rakyatnya. Merekalah yang mampu meraba setiap keluh-kesah setiap orang."

"Mereka, mampu menyimak kata-kata yang tak terucap, rasa-rasa yang tak tersalurkan, serta sedih dan tawa yang tak terungkapkan. Pada merekalah terhadap ciri sejati seorang pemimpin. Pada telinga merekalah degup-degup jantung rakyat dapat terus terasa getarannya."

"Nak, katahuilah, suatu kerajaan yang besar, akan hancur, apabila pemimpinnya, hanya mampu mendengar apa yang terlihat dan apa yang terlontarkan. Sebuah negara dapat binasa, saat para pemimpinnya tak berusaha untuk menelusup ke dalam relung hati rakyat dan merasakan hasrat yang ada di dalamnya. Nak, bersiaplah. Rakyatmu telah menunggu. "

Sang putra mahkota berjalan pulang, menuju istana tempat ayahnya tinggal. Dan sang Guru, memandang kepergian muridnya itu dengan bangga. Seorang pemimpin baru telah dibantu kelahirannya. (Sumber: kumaraqulmi)

 

Bagaimana Memaknai Pekerja Anda?

"Jika seseorang diberi tanggung jawab untuk menjadi penyapu jalan, ia harus melakukan tugasnya seperti apa yang dilakukan oleh pelukis Michelangelo, atau seperti Beethoven mengkomposisikan musiknya, atau seperti Shakespeare menulis sajaknya. Ia harus menyapu jalan sedemikian baiknya, sehingga semua penghuni surga dan bumi berhenti sejenak dan berkata, di sini hidup seorang penyapu jalan jempolan yang melakukan tugasnya dengan baik".
- Martin Luther King -

Pada suatu hari, nampak tiga orang tukang batu yang sedang bekerja keras membangun suatu bangunan. Tukang pertama, yang berada di paling ujung ditanya, "Apa yang sedang anda kerjakan, dan bagaimana perasaan anda melakukan kerja ini ?" Dia menjawab "Saya sedang menata batu-batu ini menjadi sebuah tembok. Malas juga sebenarnya melakukan kerja ini. Kalau ada pekerjaan lain yang lebih enak, secepatnya saya akan pindah".

Tukang kedua, yang berada di sebelahnya juga ditanya pertanyaan yang sama, dan dia menjawab dengan bersungut-sungut "Saya melakukan suatu tugas senilai 5 dollar sejam. Dengan tugas seberat ini dan kami harus melakukannya sepanjang hari, seharusnya kami digaji dua kali lipat. Kami merasa hanya sebagai sapi perah, dipaksa bekerja keras, dan nantinya mereka yang mendapatkan hasil paling banyak .....".

Tukang ketiga, dengan pertanyaan yang sama pula, menjawab "Saya sedang menjadi bagian dari suatu sejarah, di mana setiap detil dari bangunan ini akan saya sentuh sehingga menjadi sempurna. Kelak, apabila bangunan ini sudah jadi, saya akan mengajak anak saya berjalan-jalan di depannya, dan bisa berkata dengan bangga pada anak saya, bahwa dibalik bangunan megah ini, ada sentuhan dari ayahnya yang membuatnya menjadi sempurna ........"

Menarik untuk mengambil makna dari cerita diatas. Jika cerita tersebut ditarik ke dalam kehidupan karir anda, tukang batu yang manakah yang mirip dengan situasi anda saat ini ?

Tipe tukang pertama, adalah mereka yang diistilahkan sebagai OPERATOR. Mereka akan menjalankan tugas berdasarkan apa yang diperintahkan oleh atasan, tapi tidak pernah berpikir apa tujuan yang ingin dicapai dari apa yang mereka lakukan tersebut.

Tipe tukang kedua, diistilahkan sebagai MONEY-ACTION VALUATOR, di mana mereka selalu menilai apa yang mereka kerjakan dengan sejumlah uang. Seringkali orang-orang seperti ini mengeluh tentang kecilnya penghasilan mereka dibanding dengan kerja yang mereka lakukan, tanpa mereka mau melakukan perbaikan.

Dan tipe ketiga, adalah seorang VISIONER, dimana mereka bisa melihat ke depan, manfaat besar apa yang bisa mereka raih dari hal-hal kecil yang mereka lakukan saat ini.

Sebagai seorang profesional misalnya, kita mempunyai banyak rekan kerja yang sama dengan kita. Tapi MAKNA dari pekerjaan yang kita lakukan setiap hari, akan menggerakkan ATTITUDE kita, dan memberikan HASIL yang berbeda dalam jangka panjang.

Pertanyaan penting sebelum anda memulai perjalanan karir anda menuju sukses adalah, apakah pekerjaan yang anda lakukan sekarang merupakan pekerjaan yang anda dambakan dan senangi ? Adakah rasa bangga terhadap apa yang anda kerjakan sekarang ? Jika tidak, maka hanya ada dua pilihan, yaitu berusaha untuk mencintainya, atau keluar dari pekerjaan anda sekarang dan mencari pilihan karir lain yang sesuai dengan keinginan anda. Jika anda memaksakan bekerja di bidang yang membuat anda merasa tertekan sepanjang hari, hanya karena tidak ada perusahaan lain yang mau menerima anda, maka bersiaplah untuk menderita lebih lama lagi.

Bagaimana jika kita bekerja karena uang, bukankah memang uang adalah salah satu pendorong kita bekerja ? Memang benar. Tapi kita juga perlu menyadari bahwa uang adalah HASIL AKHIR dari suatu tindakan yang kita lakukan sebelumnya. Yang perlu kita renungkan disini adalah bagaimana attitude kita dalam melakukan tindakan sehari-hari, sebelum kita menerima upah kita di akhir bulan. Jika kita hanya menyukai uangnya, bukan pekerjaannya, maka kita akan dengan mudah menyerah dan mungkin mencoba-coba mencari lowongan baru jika merasa sudah mentok, atau ada halangan yang menghadang di depan.

Orang-orang yang mencintai pekerjaannya, selalu mencari tantangan baru di dalam karirnya. Jika mereka merasa tantangan mereka di kantor sudah mentok, barulah mereka mencoba mencari hal-hal baru yang bisa ditingkatkan dari profesi mereka. Sayang sekali memang, jumlah orang seperti ini tidak begitu banyak. Kualitas orang seperti ini begitu menonjol dibanding rekan-rekannya, bahkan kualitasnya seringkali terdengar hingga keluar perusahaan. sehingga tidak mengherankan jika banyak perusahaan lain yang juga tertarik dan berusaha membajaknya untuk pindah ke tempat lain. Dan mereka pun jika akhirnya mau berpindah, bukan hanya karena iming-iming uang yang menggiurkan, tapi karena mereka juga melihat kesempatan di tempat lain dimana mereka mempunyai peluang untuk menjawab tantangan yang lebih besar.

Akhir kata, cobalah untuk melihat ke dalam diri anda saat ini. Apakah makna pekerjaan bagi anda saat ini ? Dan termasuk type manakah cara kerja anda, operator, money-action valuator, ataukah visioner ? Belum terlambat untuk mulai berubah dan mencintai pekerjaan anda, serta melakukan yang terbaik demi kesuksesan karir anda ke depan. Sukses untuk anda !

 

Keikhlasan Hati Orang Kecil

Hari Senin pagi 5 Februari 2007, perjalanan dari Lebak Bulus ke kawasan Blok M relatif lebih lancar daripada biasanya. Mungkin karena sebagian orang masih mendapat kesulitan untuk keluar rumah menuju kantor, akibat banjir besar yang melanda Jakarta sejak hari Kamis yang lalu.

Biasanya, saya berangkat dari rumah ke kantor melalui jalan Tebah, di belakang Pasar Mayestik lalu masuk ke jl Bumi dan Jalan Kerinci lalu keluar di Jalan Pakubuwono VI. Namun pagi ini, saya sengaja melintasi jalan Pati Unus untuk berbelok ke arah Jl. Paukubuwono VI karena ingin membeli pisang terlebih dahulu.

Di depan rumah makan Warung Daun ada penjaja pisang barangan. Di situlah saya biasa membeli pisang setiap minggu. Perempuan penjajanya sudah tahu bahwa saya akan membeli 3 sisir pisang. Satu sisir matang dan 2 sisir lainnya mengkal atau terkadang masih kehijauan. begitu juga rencananya pagi ini. Saat saya menghentikan mobil, dengan sigap dia memilih-milih pisang dan menyodorkannya kepada saya. Saya mengeluarkan uang selembar 50 ribu. Itulah lembaran yang ada di dalam dompet di samping beberapa lebar ribuan di dalam kotak uang untuk pembayar ongkos parker, yang tak cukup untuk membayar 3 sisir pisang. Agak ragu perempuan itu menatap saya ;

"Ibu . apa bisa diberikan uang pas saja?" tanyanya.

Saya melihat isi dompet dan tas... ternyata sama sekali tidak ada. Maklum awal bulan begini, isi dompet sedang sekarat. Kosong setelah digunakan kewajiban rutin, dari belanja bulanan, membayar gaji pembantu sampai dengan uang sekolah anak.

"Aduh maaf ... nggak ada uang pas...!"

"Saya tukar di warung dulu ya bu..." pintanya, meminta kesediaan saya menunggu. Saya melirik di sekitar jalan raya tersebut. Tidak ada warung sama sekali. Tentu saya harus menunggunya agak lama, sampai dia kembali dengan uang tukarannya. Dan saya merasa enggan menunggunya. Apalagi jalan Pakubuwono VI di pagi hari cukup ramai.

"Kalau nggak ada kembalinya, saya ambil dua sisir saja ya ... saya punya uang kecil untuk itu...", usul saya menutupi keengganan menunggunya mencari tukaran uang. Cepat saya hitung uang receh di mobil yang terdiri dari uang kertas dan koin. Semuanya berjumlah enam belas ribu. Masih kurang dua ribu.

"Nah... lihat deh, uang saya nggak cukup. Saya ambil dua sisir saja ya..."

"Jangan bu .... , ambil saja semuanya. Ibu kan besok lewat lagi, jadi besok saja bayar kekurangannya! " begitu katanya, seraya mengembalikan lembar uang 50 ribu kepada saya.

"Aduh ... saya belum tentu lewat sini lagi lho besok. Jadi biar saya ambil 2 sisir saja. Saya bisa mampir kapan-kapan kesini."

"Nggak apa-apa bu ... kapan ibu lewat saja, bayarnya.... ..", sahutnya.

Saya mengambil lembaran uang tersebut dan segera berlalu darinya. Di belakang sudah banyak mobil menunggu.

Tiba di kantor, sambil menunggu komputer menyala baru saya sadari, betapa lugu dan naifnya penjaja pisang itu. Dia rela mengambil resiko "kehilangan" keuntungan sebesar dua ribu rupiah. Bayangkan seandainya saya tidak lagi lewat tempatnya berjualan. Dua ribu memang kecil nilainya dibandingkan dengan pengembalian uang sebesar 32 ribu yang harus diberikannya kepada saya. Tetapi saya yakin, uang dua ribu itu begitu besar artinya bagi seorang penjaja pisang di pinggir jalan. Toh dia rela dan ikhlas "kehilangan" sementara uang tersebut dan begitu mempercayai saya, perempuan yang kebetulan secara rutin membeli dagangannya. Sementara saya, tidak ikhlas menunggunya menukarkan uang atau bersikap seperti yang dilakukannya Apalah susahnya mengatakan ....

"Ambil saja dulu uang itu. Besok saya lewat lagi dan kembalikan saja uang saya, besok"

Ternyata saya sama sekali tidak memiliki keikhlasan dan kepercayaan kepadanya seperti apa yang diperlihatkannya kepada saya. Malu rasanya menyadari hal itu. Padahal dulu, sebelum pindah ke Lebak Bulus, saya selalu mempercayai penjaja sayur yang biasa datang ke rumah atau pembantu rumah. Setiap hari, saya selalu meletakkan uang di kotak yang tersimpan di atas lemari es, untuk belanja sehari-hari, yaitu sayuran dan bumbu dapur serta ongkos transport Muslimin ke sekolah. Tanpa sekalipun meminta rincian pengeluaran. Saya mempercayai mereka sepenuhnya. Kalau pembantu mengadu bahwa Muslimin mengambil uang lebih dari jatahnya, saya dengan enteng berkata :

"Biar saja... uang itu tidak akan membuat Muslimin menjadi kaya raya mendadak atau saya menjadi jatuh miskin. Yang pasti, orang yang mengambilnya tidak akan mendapat berkah Allah SWT"

Sekarang, saat tinggal di Lebak Bulus, saya menitipkan uang belanja sayuran kepada ibu saya. Entah bagaimana beliau mengurusnya. Saya tidak lagi menaruh uang di atas kulkas untuk belanja. Mungkinkah karena hal kecil itu saya menjadi kehilangan sensitifitas untuk mempercayai orang kecil? Astaghfirullah ... betapa picik dan sombongnya saya.... Ampun Tuhan..... Sungguh saya menyesal hari ini... saya sudah terjerat pada fenomena low trust society .... tidak memberikan kepercayaan kepada lingkungan sekitar. Selalu memandang curiga kepada orang lain.

Besok saya harus lewat dan membayar kekurangan uang itu. Dua ribu yang relatif tidak bernilai buat saya, tapi betul-betul sudah membuat martabat saya "terjerembab" ke dasar jurang... Sungguh saya malu... selama ini saya selalu berpegang teguh untuk selalu menjaga martabat diri. Selalu berusaha untuk tidak berlaku dzalim atau mencurangi orang lain. Ternyata apa yang saya lakukan masih sebatas artificial yang dengan sangat mudah dipatahkan oleh perempuan sederhana itu....

Kalaupun esok saya ikhlas memberikan uang lebih besar daripada uang yang harus saya kembalikan, tetapi saya merasa yakin bahwa keikhlasan itu tidak lagi bernilai dimata Allah SWT. Saya sudah kehilangan momentum yang baik untuk meraih "nilai positif" di mata Allah SWT. Pada hari ini, saya sudah menampik kesempatan untuk meraih pahala dan berkah Allah. Sungguh, kesempatan itu selalu datang dalam bentuk dan pada waktu yang sama sekali tak terduga.

Ampuni saya ya Allah.... Jadikan hal tersebut yang pertama dan terakhir. Sungguh, berikan saya kesempatan untuk selalu menjadi golongan orang-orang yang senantiasa rendah hati dan ikhlas serta dijauhkan dari kesombongan. Amien....!

Hari ini, selasa, saya lewat Jl Pakubuwono dan berniat melunasi hutang saya. Seperti yang saya takuti sejak semalam, perempuan penjaja pisang itu tak terlihat. Dia tidak menggelar dagangannya. Duh . Itulah akibat dari "menampik kesempatan yang diberikan oleh Allah SWT untuk memperoleh pahala dan berkah.
** cerita hati nurani seorang sahabat