Header image  
SOLUSI KELUARGA TERCINTA  
line decor
  HOME  ::  
line decor
   
 
Self Healing

Kita cukup sering mendengar atau bahkan mengalami sendiri secuplik percakapan di kamar praktek dokter yang isinya: “Tidak ada yang ditemukan abnormal pada tubuh Anda, kemungkinan besar penyakit yang Anda alami ini bersumber pada pikiran, sebaiknya Anda menghindari stres dan banyak berdoa.”

Sebagai praktisi penyembuhan holistik, sudah tak terhitung betapa seringnya saya menemui kasus di mana masalah seorang klien secara fisik, bahkan pada penyakit yang konon tak berhubungan dengan stres atau pikiran, ternyata memiliki akar penyebab di pikiran dan perasaannya.

Pikiran Anda akan menentukan kondisi tubuh Anda. Apa yang tersimpan dalam rasa akan terwujud dalam raga Anda. Benarkah demikian? Adakah rahasia di balik hubungan antara rasa dengan raga yang masih perlu kita gali? Bisakah pemahaman ini kita gunakan untuk menciptakan kesehatan dan kesejahteraan hidup yang lebih baik?

Keping Petunjuk tentang Kaitan Rasa-Raga
Dalam ilmu kedokteran medis, mekanisme tubuh dan pikiran kita dijelaskan dengan istilah PNEI, yaitu singkatan dari Psycho-Neuro-Endocrino-Immuno. Maksudnya adalah. ketika pikiran dan perasaan kita (psycho) mengalami beban / stres, maka seketika terjadi perubahan pada saraf dan otak (neuro). Saat itulah keseimbangan hormonal dari fungsi kelenjar tubuh (endocrino) juga bergeser, dan pada akhirnya bisa mempengaruhi tingkat kekebalan tubuh (immuno).

Marilah kita lihat beberapa informasi yang memberikan gambaran tentang betapa eratnya kaitan antara psikis dan fisik manusia:

  • Centers for Disease Control and Prevention (CDC), sebuah institusi kesehatan di Amerika Serikat memberikan indikasi konservatif bahwa sekitar 85 persen dari seluruh jenis penyakit memiliki elemen emosional, atau dengan kata lain berkaitan dengan faktor pikiran dan perasaan.
  • Seorang dokter dari Jerman bernama Geerd Hamer, yang melakukan penelitian selama lebih dari 30 tahun, menemukan bahwa setiap bentuk penyakit fisik selalu muncul akibat berbagai jenis peristiwa hidup yang traumatis sehingga menimbulkan perubahan pada otak, dan akhirnya menyebabkan perubahan pada organ tubuh yang menjadi sakit. Dokter ini berhasil memetakan berbagai jenis konflik emosional dalam hidup, bagian otak mana yang terpengaruh, dan bagian tubuh mana yang kemudian sakit. Berdasarkan ilmu yang dikembangkannya ini, sekitar 92 persen pasien kankernya selamat dan bertahan hidup.
  • Seorang pakar biologi sel, Bruce Lipton, yang telah melakukan riset tentang genetika dan juga mengajar di fakultas kedokteran selama lebih dari 20 tahun, menemukan bahwa kesehatan kita tidak dikendalikan oleh gen (DNA) kita, namun oleh persepsi dan keyakinan kita terhadap kehidupan.
  • Sebuah studi di tahun 1998, yaitu Adverse Childhood Experiences (ACE) Study, dilakukan untuk menganalisa pengaruh dari berbagai trauma masa kecil terhadap perubahan perilaku dan munculnya berbagai masalah kesehatan di usia dewasa. Hasilnya menunjukkan korelasi yang sangat kuat antara banyaknya trauma masa kecil dengan berbagai perilaku negatif, seperti kecanduan rokok, alkohol dan obat-obatan terlarang, penyimpangan perilaku seksual, meningkatnya kecenderungan depresi dan bunuh diri.
  • Dalam studi ACE yang sama, kelompok responden yang cukup sering mengalamai trauma masa kecil juga berkorelasi kuat dengan berbagai penyakit yang paling berisiko menyebabkan kematian, seperti penyakit jantung, kanker, penyakit paru-paru kronis, penyakit liver, keretakan tulang, dll.

Mengenal Batin Sadar dan Bawah Sadar
Kita semua memiliki batin sadar dan batin bawah sadar yang kita bisa kenali secara lebih saksama:

  • Batin sadar, meliputi segala pikiran, perasaan dan perhatian yang BISA kita amati, perhatikan dan sadari. Batin sadar mencakup hanya sekitar 1% dari keseluruhan batin kita.
  • Batin bawah sadar, meliputi segala pikiran dan perasaan yang TIDAK BISA kita perhatikan atau amati secara langsung. Dia tersimpan rapi dalam berbagai bentuk memori, kebiasaan, imajinasi yang terekam sempurna. Batin bawah sadar Anda juga yang berfungsi menjalankan sebagian besar fungsi tubuh fisik Anda. Batin bawah sadar mencakup sekitar 99% dari keseluruhan batin kita.

Dengan perbandingan seperti di atas, barangkali kita hanya bisa mengetahui secara sadar sebanyak 1% dari stres, beban dan permasalahan kita, sementara 99% sisanya tersembunyi rapi di bawah sadar.

"Masalahnya, 99% porsi batin bawah sadar jugalah yang mengendalikan tubuh fisik kita, sehingga ketika terdapat masalah kuat yang tersimpan di bawah sadar, dia berpotensi kuat untuk muncul sebagai permasalahan kesehatan secara fisik."

Anda baru saja menemukan sebuah rahasia sederhana tentang kaitan antara pikiran dan tubuh. Belum sadar? Coba baca lagi paragraf di atas.

Ketika kita hanya mampu menyadari apa yang ada di BATIN SADAR kita (1%), sebenarnya berbagai problem yang ada di bawah sadar juga membutuhkan perhatian kita. Dan mengingat gudang bawah sadar tidak bisa diakses secara sengaja dan langsung, maka bawah sadar seringkali terpaksa ‘menciptakan’ masalah fisik (karena tubuh fisik dikendalikan bawah sadar).

"Tujuan dari penyakit atau masalah fisik sebenarnya bukanlah semata untuk membuat kita menderita, namun untuk membantu kita SADAR bahwa ada masalah di bawah sadar yang perlu diperhatikan, disadari, disembuhkan."

Itulah sebabnya para ahli kejiwaan dan para ahli penyembuhan alamiah mengembangkan serangkaian teknik dan proses yang memungkinkan kita untuk membuka pintu menuju batin bawah sadar, semata-mata demi menyadari berbagai masalah yang terpendam di dalamnya sehingga dapat dirawat dan disembuhkan. Banyak kasus penyembuhan fisik yang lazimnya dianggap “keajaiban” sebenarnya bertumpu pada prinsip sembuhnya masalah di bawah sadar yang akhirnya mengubah kondisi fisik.

Meninjau Kembali Cara Merawat Hidup Secara Utuh
Kita cenderung lengah untuk menuai kembali kebijakan alamiah yang, meski bukan merupakan sesuatu yang baru dalam hidup kita, cenderung kita abaikan keampuhannya dalam merintis hidup sehat lahir batin, seperti:

  • Nutrisi yang baik, dalam hal pemilihan gizi yang kita konsumsi maupun bagaimana cara menyantapnya (mindful eating).
  • Hidrasi yang baik, mengingat 70% dari tubuh kita terdiri dari air dan kita butuh air tidak hanya untuk menjaga fungsi tubuh fisik saja, namun juga untuk menjernihkan kesadaran dan melepaskan beban batin.
  • Olahraga yang baik, menggerakkan tubuh dengan penuh perhatian dan kesadaran sehingga raga dan rasa bersatu dalam ekspresi gerak.
  • Istirahat yang baik, di mana tidak saja tubuh yang memulihkan diri melainkan batin pun diistirahatkan sepenuhnya.
  • Mengelola keselarasan hati dan pikiran, belajar merintis rileks, lega, selaras dan bahagia.

Dalam pengamatan saya, faktor keselarasan hati dan pikiran adalah yang paling sering kita lupakan sekaligus yang paling berpengaruh secara negatif terhadap kesehatan dan kebahagiaan.

Belajar Menyelaraskan Diri Sendiri
Dalam memahami kaitan raga dan rasa, penting sekali kita menyadari bagaimana stres bisa berpengaruh begitu kuat pada kesehatan kita. Stres terkadang begitu pandai bersembunyi, dan kalaupun terlihat belum tentu mendapatkan perhatian dan perawatan segera.

Perhatian kita terlalu sibuk dengan target, ambisi, deadline, tanggung jawab, dan sederet celoteh pikiran tanpa henti, sehingga hampir selalu stres yang muncul akan berakhir menjadi tumpukan sampah dalam batin bawah sadar, dan belakangan berpotensi menjadi masalah fisik bila tidak segera ditangani.

Memang, bilamana kita ingin jalan pintas untuk mengatasi masalah fisik barangkali sekedar minum obat bisa saja membantu. Namun bila kita paham bahwa akar dari banyak sekali masalah fisik ada di pikiran, di mana tidak ada satu obat pun bisa memperbaiki pikiran, maka kita juga perlu paham bahwa minum obat tidak selalu mengatasi masalah fisik hingga ke akarnya.

Ini sebabnya ketika merawat diri secara utuh, pengetahuan medis modern saja tidaklah cukup. Saya lebih menyarankan kita belajar merawat diri secara alamiah dan mandiri. Di berbagai ilmu penyembuhan alamiah yang sempat saya tekuni, ternyata kuncinya adalah bagaimana merawat keselarasan. Setiap saat.

Keselarasan antara tubuh, pikiran, perasaan dan jiwa bisa dirawat dengan pendekatan yang praktis dan sederhana. Saya menyebutnya sebagai keterampilan self healing. Dengan serangkaian latihan praktis yang mengombinasikan (1) napas, (2) gerak, (3) sentuhan, dan (4) keheningan, siapa pun juga – terlepas dari budaya dan agama apa pun yang dimilikinya – bisa belajar untuk hidup lebih ringan, sehat dan selaras.

Selamat berlatih mengenal diri, merawat diri, dan
menyembuhkan diri secara alami!